Senin, 25 Maret 2013

Perbedaan Karangan


Nama: Ivania Fidhanty
NPM: 13210687/ 3ea16
Tugas (3) Softskill Bahasa Indonesia 2

A.Perbedaan Karangan Ilmiah dan Nonilmiah

Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.
2. Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3. Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.

B. Karangan Ilmiah

·         Pengertian Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

·         Contoh karangan Ilmiah
laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi.

C. Karangan Nonilmiah

·         Pengartian Karangan Nonilmiah
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

·         Contoh Karangan Nonilmiah
anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.

Analisis Kasus yang Berkaitan dengan Metode Ilmiah


Nama: Ivania Fidhanty
NPM: 13210687/ 3ea16
Tugas (2) Softskill Bahasa Indonesia 2


A.Metode Ilmiah

·       Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.


B. Contoh Kasus yang Berkaitan dengan Metode Ilmiah

“Pengembangan Kemampuan Berpikir Ilmiah di Perguruan Tinggi”
Metode paling ampuh yang pernah ditemukan manusia dalam rangka mengumpulkan pengetahuan yang relevan dan reliabel tentang alam. Metode non ilmiahlebih mengarah pada emosi dan harapn umat manusia dan lebih mudah dipelajari dan dipraktekkan daripada metode ilmiah. Meningkatkan pengajaran metode ilmiah dan manifestasinya yang terkenal yaitu berpikir kritis.Berpikir kritis dapat diajarkan melalui: perkuliahan, laboratorium, tugas rumah, Sejumlah latihan, Makalah, dan ujian.
Realisasi berpikir rasional tampak pada penggunaan kata, kalimat, alenea, rumus pemecahan masalah, ataupun symbol-simbol. Prasyarat untuk mewujudkan items tersebut adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, memikir dan melakukan observasi. Ilmu pengetahuan adalah sistem berpikir tentang dunia empiris. Dengan demikian pendidikan keilmuan adalah pendidikan berpikir rasional tentang dunia empiris. Dari sisi taksonomi berpikir, maka pendidikan keilmuan berarti pemecahan masalah, menciptakan sesuatu. Kegiatan tersebut bisa dalam bentuk eksplorasi, eksperimentasi, kreativitas, ketekunan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kerja sama atau kolaboratif.
Perubahan paradigma pembelajaran di atas mempunyai implikasi yang sangat besar, karena akan menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara produktif. Indikasi-indikasi berpikir produktif ( Marzano dalam Kamdi, 2002) demikian antara lain: self-regulated thinking and learning.
Akademik dan ijazah diterima oleh seseorang sebagai tanda telah selesainya masa pendidikan tinggi formal dalam strata tertentu. Untuk memperoleh gelar dan ijazah menurut ketentuan dalam sistem pendidikan, seseorang harus terlebih mengikuti serangkaian kegiatan akademik dalam bentuk perkuliahan tatap muka, menyelesaikan tugas secara terstruktur baik secara individual maupun kelompok, melakukan kegiatan praktikum serta menyusun-mempertahankan dalam ujian dan dinyatakan lulus ujian skripsi (S1), tesis (S2), dan disertasi (S3).
Pengejaran gelar akademik yang berorientasi legitimasi simbolik dengan kedok lembaga pendidikan sudah cukup lama beroperasi. Padahal dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 secara tegas dinyatakan bahwa mereka dapat dikenai sangsi 1 milyar dan atau penjara 10 tahun bagi perseorangan, organisasi atau penyelenggara yang memberikan ijazah dan gelar akademik tanpa hak (pasal 67) dan jika dilakukan suatu perguruan tinggi dinyatakan ditutup. Sementara setiap orang yang membantu memberikan ijazah dan gelar akademik yang tidak memenuhi persyaratan dipidana maksimal 5 tahun dan atau denda maksimal 5 ratus juta rupiah (pasal 68:1). Sedangkan orang yang menggunakan gelar dan ijazah yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana penjara paling lama 5 tahun dan atau pidana denda paling banyak 5 ratus juta rupiah (pasal 68:2)

Bagaimana Penalaran digunakan dalam Proses Bahasa


Nama: Ivania Fidhanty
Npm: 13210687/ 3EA16
Tugas (1) softskill Bahasa Indonesia 2 


A.Pengertian Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis.

B.  Penggunaan bahasa Indonesia dalam proses Penalaran
Disini, yang dimaksudkan dengan penggunaan bahasa indonesia dalam proses penalaran adalah Penulisan Ilmiah. Proses penalaran digunakan untuk menyusun Penulisan Ilmiah.

·        Konsep Ilmiah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamisa, 1997) menjelaskan bahwa Ilmiah adalah sesuatu yang didasarkan atas ilmu pengetahuan. Kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan.

·        Persyaratan Ilmiah
1.    Obyektif
Ilmu harus memiliki obyek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Obyeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji obyek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan obyek, dan karenanya disebut kebenaran obyektif; bukan subyektif berdasarkan subyek peneliti atau subyek penunjang penelitian.
2.   Metodis
Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.   Sistematis
Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu obyek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.   Universal
Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat obyeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

C. Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Dalam Penyajian sebuah Konsep Ilmiah, Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting dengan dibakukannya Ejaan sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Dengan Ejaan sesuai EYD ini, Bahasa Indonesia memiliki susunan struktur bahasa yang Obyektif, Metodis, Sistematis dan Universal.
Peranan tersebut, mencakup penggunaan Bahasa Indonesia dalam publikasi artikel maupun tulisan – tulisan ilmiah, baik berupa karya tulis, penulisan ilmiah, maupun skripsi dimana penerapannya harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
Beberapa hal sederhana misalnya tentang kaidah penggunaan huruf kapital: bahwa pada setiap awal kalimat harus diawali dengan huruf kapital, dan huruf kapital juga dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah.
Kaidah-kaidah tersebut tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Dengan adanya kaidah / aturan ini, maka tulisan ilmiah yang dibuat menjadi lebih Obyektif, Metodis, Sistematik, Terstruktur dan Universal khususnya dalam penggunaan bahasa sesuai dengan makna konsep Ilmiah itu sendiri.

Tulisan (2) Softskill Bahasa Indonesia 2 "Puisi"


Nama: Ivania Fidhanty
Npm: 13210687/ 3EA16
Tulisan (2) softskill Bahasa Indonesia 2 (PUISI)

"Terpisah"


Jika cinta adalah burung
Maka kita tidak akan memiliki sayap
Jika cinta adalah langit
Kita akan berwarna biru
Jika cinta adalah paduan suara
Kau dan aku tidak pernah bisa menyanyi
Karena cinta bukan untuk aku dan kamu

Jika cinta adalah Oscar
Kau dan aku tidak pernah bisa menang
Karena kita tidak bisa beracting diperan kita
Jika cinta adalah kitab suci 
Kita akan tersesat dalam dosa 
Karena cinta tidak ada di hati kita 

Jika cinta adalah api 
Kita telah kehilangan percikan 
Cinta tidak pernah merasa begitu dingin 
Jika cinta adalah cahaya 
Kita akan tersesat dalam gelap 
Karena kita tidak saling berpegangan

Jika cinta adalah olahraga 
Kita tidak berada di tim yang sama 
Kau dan aku ditakdirkan untuk kalah 
Jika cinta adalah samudra 
Kita hanya sungai 
Karena cinta bukan untuk aku dan kamu

Tulisan (1) softskill Bahasa Indonesia 2 "Puisi"


Nama: Ivania Fidhanty
Npm: 13210687/ 3EA16
Tulisan softskill Bahasa Indonesia 2 (PUISI)



“MATA”
Mataku sangat lelah
Mereka harus tidur
Tapi mereka tidak akan
Mereka tidak
Mereka tidak akan membiarkan saya melewatkan ini

Mataku dalam cinta
Mereka menginginkan lebih dari dirinya
Mereka perlu waktu kurang dari ini
Mereka semuanya
Mereka luar biasa

Mataku kesepian dan dingin
Mereka masih muda
Dan mereka sudah tua
Mereka mencari jalan keluar
Dan sejenak untuk membiarkan kau didalam
Mereka ingin tidak ada hubungannya denganku
Dan hanya ingin melakukan denganmu
Mereka lapar
Aku memperingatkanmu
Dan aku takut

Mereka tidak akan membiarkan aku berkembang
Mereka akan membutuhkan semua yang kau miliki
Membuat semuanya begitu nyata
Dengan belajar merasakan
Apa yang tidak benar-benar terjadi
Apa yang terjadi jauh lebih
Lalu aku pernah berharap untuk
Pernah berharap untuk

Dan aku lebih suka membayangkan
Kemudian tidak hidup sama sekali

Selasa, 23 Oktober 2012

Demografi

NAMA                       : Ivania Fidhanty
KElas                          : 3EA16
NPM                           :13210687



1. Pengertian Demografi
Demografi adalah uraian tentang penduduk, terutama tentang kelahiran, kematian, perkawinan dan migrasi. Demografi meliputi studi ilmiah tentang jumlah, persebarab geografis, komposisi penduduk serta bagaimana factor-faktor ini berubah dari waktu ke waktu

2. Faktor-Faktor Demografi
a.   Demografi Dalam Struktur Kependudukan
Demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kematian, kelahiran, migrasi serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang di dasarkan criteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama atau etnis tertentu.
b.   Demografi Dalam Kelas Sosial
Kelas social di definisikan sebagai pembagian anggota masyarakat kedalam suatu hierarki setatus kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas relative mempunyai status yang sama dan para anggota lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau rendah.
c.   Demografi Dalam Ekonomi
Gaya hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang, energy dan merefleksikan nilai-nilai, rasa dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang di tentukan dengan karakteristik individu yang terbangun sejak lahir dan seiring berlangsungnya interaksi social selama mereka menjalani siklus kehidupan.
d.   Demografi Dalam Status Sosial
-          Ascribed Status
Tipe status yang di dapatkan sejak lahir.
-          Achieved Status
Status social yang di dapatkan seseorang karana usaha dan kerja kerasnya yang di lakukan.
-          Assigned Status
Status social yang di dapatkan dari lingkungan masyarakat yang bukan di dapatkan dari lahir tetapi di berikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat.

3. Bagaimana Faktor Demografi Dapat Mempengaruhi Keputusan Pemasaran
a.   Lingkungan Ekonomi
Karna suatu bangsa mempunyai tingkat dan distribusi pendapatan yang berbeda-beda maka factor ini mempengaruhi daya beli dan pola pengeluaran konsumen.
b.   Lingkungan Tekhnologi
Dengan adanya tekhnologi maka akan menciptakan peluang dan pasar baru karena tekhnologi bermanfaat untuk kebutuhan manusia.
c.   Lingkungan Politik
Lingkungan politik sangat memepengaruhi keputusan pemasaran karena lembaga politik dapat membatasi suatu organisasi atau individu dalam masyarakat.
d.   Lingkungan Alam
Lingkungan alam sangat menetukan tersedianya bahan baku untuk produksi atau tidak, hal ini sering menjadi pertimbangan bagi pemasar untuk mempertimbangkan produknya.
e.   Lingkungan Budaya
Karakteristik budaya yang mempengaruhi pengambilan keputusan pemasaran adalah keteguhan pada nilai-nilai budaya dan perubahan dalam budaya sekunder.

 

Minggu, 07 Oktober 2012

ASPEK-ASPEK DALAM ILMU PERILAKU EKONOMI




·        Pengertian Perilaku Konsumen
Di dalam aspek-aspek ilmu perilaku ekonomi terdapat perilaku konsumen. Perilaku konsumen itu sendiri merupakan tindakan–tindakan yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi, dan membuang suatu produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan – tindakan tersebut. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
Dengan kata lain, perilaku ekonomi adalah bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumberdayanya yang terbatas seperti uang, waktu atau tenagauntuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.

·        Teori Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya. Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh beberapa factor seperti pendapatan, selera konsumen, dan harga barang, disaat kondisi yang lain tidak berubah.

·        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Konsumen
Di dalam perilaku konsumen terdapat 4 faktor yang mempengaruhinya:
1.     Faktor Kebudayaan, yaitu penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya.
2.    Faktor Sosial, yaitu pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
3.    Faktor Pribadi, yaitu karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan.
4.    Faktor psycologis, yaitu bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang.

·        Pendekatan Untuk Pendekatan Perilaku Konsumen

1.      Pendekatan Kardinal, yaitu kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur, Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil.
2.      Pendekatan Ordinal, yaitu mengukur kepuasan konsumen dengan angka ordinal. Kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan.
Nama: Ivania Fidhanty
Npm: 13210687
Kelas: 3ea16